Penggunaan kecerdasan buatan atau AI semakin berkembang dalam penulisan jurnal ilmiah. Teknologi ini membantu peneliti menyusun ide, memperbaiki bahasa, dan merangkum literatur. Namun, penggunaan AI dalam jurnal Scopus tetap membutuhkan tanggung jawab akademik. Peneliti harus memastikan seluruh isi naskah berasal dari proses ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, AI tidak dapat menggantikan peran penulis dalam penelitian ilmiah. Penulis tetap bertanggung jawab terhadap akurasi, orisinalitas, dan integritas naskah. Karena itu, AI tidak dapat dicantumkan sebagai penulis atau penulis pendamping. Pedoman penerbit akademik juga menekankan pentingnya pengawasan manusia terhadap hasil AI.
Selanjutnya, peneliti perlu memeriksa setiap informasi yang dihasilkan oleh AI. Langkah tersebut penting karena AI dapat menghasilkan informasi keliru atau referensi yang tidak valid. Peneliti juga harus memastikan setiap sumber memiliki rujukan yang benar. Dengan demikian, penggunaan AI tidak mengurangi kualitas dan kredibilitas penelitian.
Di sisi lain, transparansi menjadi bagian penting dalam penggunaan AI untuk jurnal ilmiah. Sejumlah penerbit meminta penulis mengungkap penggunaan AI dalam proses penyusunan naskah. Pengungkapan tersebut dapat menjelaskan alat yang digunakan serta tujuan penggunaannya. Scopus juga mendorong jurnal memiliki kebijakan khusus mengenai penggunaan AI.
Pada akhirnya, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan peneliti. Peneliti tetap harus melakukan analisis, verifikasi data, dan pengambilan keputusan secara mandiri. Dengan penggunaan yang etis, AI dapat membantu meningkatkan efisiensi penulisan jurnal ilmiah. Namun, integritas akademik tetap menjadi dasar utama dalam menghasilkan publikasi berkualitas.






