Perkembangan kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah cara perusahaan mengatur pekerjaan. Karena itu, sejumlah CEO kini mempertimbangkan dampak AI terhadap kebutuhan tenaga kerja. Perubahan tersebut terutama terlihat pada pekerjaan rutin dan posisi pemula.
Survei PwC menunjukkan 49 persen CEO memperkirakan adopsi AI dapat mengurangi perekrutan pekerja pemula dalam tiga tahun. Namun, kondisi tersebut belum berarti perusahaan akan melakukan pemutusan kerja secara besar-besaran. Sebaliknya, perusahaan masih mencari cara menggabungkan AI dengan kemampuan manusia.
Data Federal Reserve juga menunjukkan dampak AI terhadap jumlah pekerja masih relatif kecil. Secara keseluruhan, perusahaan belum mengalami perubahan besar dalam jumlah karyawan akibat penggunaan AI. Meski demikian, perusahaan besar memperkirakan jumlah tenaga kerja dapat turun sekitar 0,8 persen pada 2026.
Selain itu, S&P Global mencatat efisiensi proses dan produktivitas menjadi tujuan utama penerapan AI. Pengurangan jumlah pekerja berada di bawah kedua tujuan tersebut. Artinya, banyak perusahaan memakai AI untuk meningkatkan hasil kerja sebelum mempertimbangkan pengurangan tenaga kerja.
Di sisi lain, perubahan paling terasa diperkirakan terjadi pada pekerjaan pemula. Pekerjaan rutin lebih mudah mendapat dukungan otomatisasi berbasis AI. Karena itu, pekerja perlu meningkatkan keterampilan digital, analisis data, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, adopsi AI tidak otomatis berarti hilangnya pekerjaan secara massal. Namun, perubahan tugas dan kebutuhan keterampilan menjadi tantangan nyata bagi pekerja. Perusahaan juga perlu menyiapkan pelatihan agar karyawan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.






